Bismillah.
🔰 Teman tanpa Aib
Sudah menjadi fitrah, manusia senantiasa mendambakan persahabatan yang tulus dan persaudaraan yang sejati.
Namun, sering kali harapan itu pupus karena pandangan kita yang terlalu menuntut kesempurnaan dari orang lain, seakan-akan kita sendiri tanpa cela.
Padahal, hakikat manusia adalah kumpulan kelebihan yang dihiasi kekurangan, dan kelemahan yang dibalut kebaikan.
Barangsiapa yang hanya ingin bersaudara dengan mereka yang tanpa cela, niscaya ia akan berjalan sendirian tanpa kawan.
🟪 Al-Fudhoil bin ‘Iyadh –rahimahullah– berkata,
"من طلب اخا بلا عيب، بقي بلا اخ."
~ روضة العقلاء (ص: ١٦٩)
“Barangsiapa mencari seorang saudara tanpa cela, maka ia akan hidup tanpa saudara.”
📙 ~ Roudhoh al-‘Uqala’ (hlm. 169), karya Abu Hatim Al-Bustiy
Marilah kita belajar menerima saudara kita dengan segala kekurangannya, sebagaimana kita berharap ia pun menerima kita dengan segala keterbatasan kita.
Persaudaraan sejati bukanlah terjalin karena kesempurnaan, melainkan karena kesediaan untuk saling melengkapi kekurangan, saling memotivasi, dan saling menguatkan.
Dengan begitu, kita akan menemukan indahnya arti persahabatan yang diridai Allah, bukan sekadar hubungan yang rapuh karena tuntutan yang mustahil terpenuhi.
🟣 Faedah dari Nasihat ini:
Berikut beberapa petikan faedah dari nasihat Fudhoil bin Iyadh -rahimahullah-:
1. Manusia tidak ada yang sempurna. Mencari saudara tanpa cela adalah hal yang mustahil. Sebab, setiap orang pasti memiliki kekurangan.
2. Kesempurnaan bukan syarat persaudaraan. Hakikat persaudaraan adalah menerima kelebihan dan kekurangan yang ada pada saudara kita sebagaimana halnya kita berharap agar mereka menerima kita sebagai saudaranya, walaupun pada diri kita ada kekurangan-kekurangan yang akan mereka sempurnakan.
3. Barangsiapa yang menuntut kesempurnaan, maka ia akan kehilangan banyak kebaikan dan kesempatan. Karena, ia tidak akan pernah mendapatkan sahabat yang sesuai dengan bayangan dan harapan dirinya.
4. Kebaikan terletak pada sikap toleransi dan saling memahami. Persaudaraan sejati dibangun dengan sikap lapang dada, bukan dengan mencari kekurangan.
5. Nasihat ini mendidik kita untuk lebih sibuk memperbaiki diri daripada mencari aib orang lain. Karena, sesungguhnya kita pun memiliki kelemahan yang butuh ditutupi oleh Allah dan dimaafkan oleh manusia.
Gowa, 16 Robi'ul Awwal 1447 Hijriyah
✍ Ustadz Abdul Qodir Abu Fa'izah Al-Bughisiy -hafizhahullah-
Ulasan
Catat Ulasan